Tugas

Pengantar Studi Islam


SHIDIQ

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah wa syukrulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah senantiasa dan tidak bosan-bosannya dalam memberikan aneka macam kenikmatan kepada kita semua walaupun hambanya banyak yang lalai akan perintahnya dan cenderung menjalankan larangannya. Nastagfirullah min kulli dzunub.
Sholawat beriring salam selalu tercurahkan kepada suri tauladan kita, sang penyabar, dan penyeru kebenaran yakni nabi Muhammad SAW yang telah membimbing umatnya untuk masuk ke Surga Allah. Amin
Penulis haturkan banyak terima kasih kepada Allah yang telah membantu saya dalam menyelesaikan makalah dan tugas UAS ini. Dan mohon maaf penulis sampaikan atas segala kekhilafan. Demikianlah dan terimakasih.


Penulis,


Achmad Hidayatullah



                                              





DAFTAR ISI
Kata Pengantar ………………. 2
Daftar Isi ………………. 3
Bab I
a.       Pendahuluan ………………. 4
b.      Rumusan Masalah ………………. 5
c.       Tujuan ………………. 5
d.      Batasan Masalah ………………. 5

Bab II
a.       Definisi ………………. 6
b.      Keutamaan dan Kekuatan Sifat Shidiq ………………. 8
c.       Ciri-Ciri Yang Mempunyai Sifat Shidiq ………………. 10
d.      Cara Menanamkan Sifat Shidiq Pada Siswa (Peserta Didik) ………………. 13
e.       Cara Membuang Sifat Kidzib atau Bohong Pada Siswa (Peserta Didik) …………. 14

Bab III (Penutup) ………………. 15
JAWABAN UAS PENGANTAR STUDI ISLAM ………………. 16


 



BAB I

PENDAHULUAN
Shidiq merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seluruh umat manusia khususnya umat islam, demi mendapatkan suatu kesejahteraan dunia ataupun akhirat. Dengan shidiq seseorang dapat membuka jaringan, dengan shidiq seseorang dapat menarik perhatian, dengan shidiq seseorang dapat menarik simpatik orang lain, dengan shidiq seseorang dapat meraih apa yang belum dimilikinya, dan tentunya pasti diimbangi oleh usahanya masing-masing.
Shidiq memiliki makna yang cukup luas, karena mencakup segenap aspek keislaman. Hal ini tergambar dalam firman Allah SWT: ”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.Mereka itulah orang-orang yang benar imannya (yakni bersifat siddiq); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. ” (QS Al-Baqarah: 177)
Dari penjelasan ayat diatas dapat disimpulkan bahwa shidiq memiliki makna, keimanan, menginfakkan harta yang dicintai, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji, bersabar dalam kesulitan, dll. Dan pada ayat lain dijelaskan bahwa, Allah SWT memerintahkan kita untuk senantiasa bersama-sama para shiddiqin: ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (siddiq).” (QS At- Taubah: 119)
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menyebutkan tiga orang RasulNya yang memiliki sifat siddiq ini. Yang pertama adalah Nabi Ibrahim AS. Allah memujinya karena memiliki sifat ini: ”Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al-Kitab (Al-Qur’an) ini.Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. ”(QS Maryam: 41)
 Rasul yang kedua adalah Nabi Idris AS. Allah juga memujinya dalam Al-Qur’an karena memiliki sifat siddiq. Allah berfirman: “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al-Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. ”(QS Maryam: 56)
Sedangkan yang ketiga adalah Nabi Yusuf AS. Ia membuktikan keimanannya dengan menolak ajakan Zulaikha untuk berzina, meskipun disertai dengan ancaman. FirmanNya: “Raja berkata (kepada wanita-wanita itu):” Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?” Mereka berkata: Maha Sempurna Allah, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan darinya. Berkata istri Al-Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” (QS Yusuf: 51).

RUMUSAN MASALAH
1.    Apakah yang dimaksud dengan shidiq ?
2.    Apakah keutamaan dan kekuatan dari shidiq ?
3.    Apakah ciri-ciri orang yang mempunyai sifat shidiq ?
4.    Bagaimanakah cara menanamkan sifat shidiq pada peserta didik ?
5.    Bagaimanakah cara membuang sifat kidzib atau bohong pada peserta didik ?

TUJUAN
Untuk mencari tahu makna shidiq dan cara menerapkan sifat shidiq pada peserta didik sehingga para kader umat (peserta didik) ini mempunyai sifat-sifat yang baik seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang kemudian dapat membimbing seseorang dalam menjalani kehidupan di dunia maupun akhirat.

BATASAN MASALAH
1.    Untuk mengetahui pengertian dari shidiq
2.    Untuk mengetahui keutamaan dan kekuatan dari shidiq
3.    Untuk mengetahui ciri-ciri orang yang mempunyai sifat shidiq
4.    Untuk mengetahui cara menanamkan sifat shidiq pada peserta didik 
5.    Untuk mengetahui cara membuang sifat kidzib atau bohong pada peserta didik






BAB II

PEMBAHASAN
Definisi
Dari segi bahasa shiddiq berasal dari kata shodaqo yang berarti benar, jujur, dapat dipercaya, ikhlas, tulus, keutamaan, kebaikan dan kesungguhan.
الصدق: من صدق – يصدق - صدقا
Diantara arti shidiq adalah: Benar, jujur/ dapat dipercaya, ikhlas, tulus, keutamaan, kebaikan, dan kesungguhan. Penulis melihat bahwa shidiq di sini lebih dekat dengan sebuah sikap pembenaran terhadap sesuatu yang datang dari Alah dan Rasulullah SAW yang berangkat dari rasa dan naluri keimanan yang mendalam. Sedangkan lawan dari shiddiq adalah kadzib (dusta). Adapun dari segi istilahnya, para ulama memberikan definisi yang beragam. Meskipun demikian, semuanya mengarah pada satu muara, yaitu sebagaimana yang terdapat pada definsi secara bahasanya. Diantara definisi shidiq adalah:
1.     Menyempurnakan amal untuk Allah SWT.
2.   Kesesuaian dzahir dengan bathin. Karena orang yang dusta adalah mereka yang dzahirnya lebih baik dari bathinnya.
3.     Ungkapan yang haq dalam posisi yang membinasakan.
4.     Perkataan yang haq pada orang yang ditakuti dan diharapkan.

Pengertian shidiq diatas merupakan makna dari sebuah perkataan yang kemudian diterapkan dalam perbuatan. Sebagaimana Rasulullah SAW telah mencontohkan dari akhlak-akhlak yang mulia diantaranya shidiq, seperti firman Allah SWT yaitu:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [Al Ahzab 21]
Ada beberapa hadits yang dijelaskan oleh Imam Nawawi pada buku Riyadhus Shalihin, diantaranya yaitu:
Shidiq itu memimpin seseorang menuju kebaikan, dan kebaikan akan membawanya ke surga. Hal ini digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits berikut: “Dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah SAW bersabda: “ Sesungguhnya shidiq itu memimpin kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan membawanya ke dalam surga” sedangkan lawan kata shidiq yaitu kadzib yang merupakan sumber dari keburukan: ”Dan sesungguhnya kedustaan ​​itu membawa kepada keburukan, dan keburukan itu membawa ke neraka.
Shidiq juga merupakan ketenangan. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW: Dari Abu Haura ‘As-Sa’dy, aku berkata kepada Hasan bin Ali RA: “Apa yang kamu hafal dari hadits Rasulullah?” Beliau berkata: “Aku hafal hadits dari Rasulullah SAW:” Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kebenaran membawa pada ketenangan dan dusta itu membawa pada keraguan. ”(HR Tirmidzi)
Shidiq merupakan perintah Rasulullah SAW. Hal ini dikatakan oleh Abu Sufyan ketika bertemu dengan raja Hiraklius: “Apa yang dia perintahkan pada kalian?” Abu Sufyan menjawab: ”Untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, meninggalkan semua ajaran nenek moyang, mendirikan shalat, bersikap siddiq ( jujur ​​/ benar), bersopan santun dan menyambung tali persaudaraan. ”
 Shidiq akan menuntun seseorang untuk mendapatkan pahala dan mengejar sesuatu yang dicita-citakannya, meskipun ia belum atau tidak dapat melakukan sesuatu yang menjadi cita-citanya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang meminta kesyahidan kepada Allah SWT dengan siddiq (sebenarnya), maka Allah akan menempatkannya pada posisi syuhada ‘, meskipun ia meninggal di tempat tidurnya.” Dan keutamaan dan kemuliaan sifat benar itu diperkuat dan dijelaskan dalam firman Allah:
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَٰذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا [٣٣:٢٢]
“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, “inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka, kecuali iman dan kedudukan”. (Q.S. al-Ahzab : 22)
Begitu juga Allah menjanjikan pahala bagi orang-orang yang benar dan mengancam orang yang berdusta dengan siksaan. Seperti yang telah difirmankan dalam ayat-ayat berikut :

لِّيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَن صِدْقِهِمْ وَأَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا أَلِيمًا [٣٣:٨]
“Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih.” (Q.S. Al-Ahzab : 8)

لِّيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِن شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا [٣٣:٢٤]
“Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang-orang munafik jika dikehendaki-Nya atau menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang.” (Q.S. Al-Ahzab : 24)
Dan shidiq juga akan membawa seseorang pada keberkahan dari Allah SWT. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Penjual dan pembeli keduanya bebas belum terikat selagi mereka belum berpisah. Maka jika benar dan jelas kedua, diberkahi jual beli itu. Tetapi jika menyembunyikan dan berdusta maka terhapuslah berkah jual beli tersebut.”
Serta akan mendapatkan ampunan dan pahala yang besar. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memuji orang yang siddiq, baik dari kaum mukminin maupun mukminat. Bahkan Allah SWT menjanjikan kepada mereka mendapatkan ampunan dan pahala yang besar melalui firmanNya: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar , laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. ”(QS Al-Ahzab: 35).

Keutamaan Dan Kekuatan Shidiq
Keutamaan Shidiq Yaitu:
1.    Membawa Kebaikan
2.    Memperoleh derajat yang tinggi  disisi Allah SWT
3.    Memperoleh ampunan dan pahala
4.    Membawa ketenangan batin
5.    Memperoleh surga

Kekuatan (Power) Shidiq
1.    Membangun integritas diri
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا - متفق عليه
Dari Abdullah bin Mas’ud ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga, sesungguhnya jika seseorang akan senantiasa berlaku jujur hingga ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Dan sesungguhnya seseorang akan selalu berdusta sehingga akan dicatat baginya sebagai seorang pendusta.” (Muttafaqun Alaih)

2.    Mengokohkan keyakinan
عَنْ أَبِيْ مُحَمَّدٍ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ، وَالْكَذِبَ رِيْبَةٌ - رواه الترمذي وأحمد
Dari Abu Muhammad Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra, beliau berkata, aku hafal hadits dari Rasulullah SAW: “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya shidiq itu membawa pada ketenangan dan dusta itu membawa pada keragu-raguan.” (HR. Tirmidzi & Ahmad)

3.    Bukan sekedar kejujuran
عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا - متفق عليه
Dari Hakim bin Hizam ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Dua orang yang melakukan jual beli boleh melakukan khiyar (pilihan untuk melangsungkan atau membatalkan jual beli) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya shiddiq (jujur) dan menjelaskan dagangannya (transparan) maka keduanya akan diberkahi dalam jual belinya. Dan bila keduanya menyembunyikan dan berdusta maka akan dimusnahkan keberkahan jual belinya". (Muttafaqun Alaih)

4.    Memperoleh Kesuksesan
عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْخَازِنَ الْمُسْلِمَ الْأَمِينَ الَّذِي يُنْفِذُ، وَرُبَّمَا قَالَ يُعْطِي مَا أُمِرَ بِهِ فَيُعْطِيهِ كَامِلًا مُوَفَّرًا طَيِّبَةً بِهِ نَفْسُهُ فَيَدْفَعُهُ إِلَى الَّذِي أُمِرَ لَهُ بِهِ أَحَدُ الْمُتَصَدِّقَيْنِ - متفق عليه
Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: "Seorang bendahara muslim yang melaksanakan tugasnya dengan jujur, dan membayar sedekah kepada orang yang diperintahkan oleh majikannya secara sempurna dengan segera dan dengan pelayanan yang baik, maka ia mendapat pahala yang sama seperti orang yang bersedekah." (Muttafaqun Alaih).
Selain mendapat ampunan dan pahala yang besar, para shiddiqin juga akan mendapat tempat yang tinggi di sisi Allah SWT. Mereka akan disatukan bersama para nabi dan orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”(QS An-Nisa ‘: 69)

Ciri-Ciri Orang Yang Mempunyai Sifat Shidiq 
Orang-orang yang mempunyai sifat shidiq telah Allah gambarkan dalam Al-Quran, yang diantaranya adalah:
1.    Teguh pendiriannya terhadap apa yang dicita-citakan (diyakininya). Firman Allah SWT: “Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati (membenarkan) apa yang telah mereka janjikan kepada Allah,  maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya). ” (QS Al-Ahzab: 23) 
2.    Tidak ragu untuk berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. ”(QS Al-Hujurat: 15)
3.    Memiliki keimanan kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, bersedekah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji dan sabar. FirmanNya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan , penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. ”(QS Al-Baqarah: 177)
4.    Memiliki komitmen yang tinggi terhadap Islam. Firman Allah SWT: “… barang siapa yang berpegang teguh dengan agama Allah, maka sungguh ia telah mendapatkan hidayah menuju jalan yang lurus …” (QS Ali Imran: 101).

Menurut Imam Ghazali, ada beberapa jenis shidiq yang perlu diterapkan dalam diri seorang mukmin, diantaranya yaitu; (Ihya Vol4. :375 – 380).
1.       Sidqul Lisan (Benar dalam ucapan). Ucapan manusia adalah ekspresi yang ada dihatinya. Hati yang baik melahirkan ucapan yang baik. Sebaliknya hati yang buruk mengeluarkan ucapan yang buruk. Perbaikan ucapan harus dimulai dari perbaikan hati. Apabila hati baik, ucapan yang keluar menjadi baik dan selanjutnya akan mengikuti oleh prilaku yang baik. Dan prilaku yang baik akan dibalas dengan ampunan dosa yang dapat membersihkan diri manusia.
“Hai orang-orang yang beriman bertaubatah kepada Allah dan berkatalah yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal perbuatan dan mengampuni dosa-dosamu(QS.33: )
2.       Sidqul Niyah dan Irodah (Benar dalam keyakinan dan motivasi). Nilai perbuatan seseorang tergantung motivasi dan niatnya. Manakala perbuatan yang baik dilandasi denga niat yang baik, mangharap ridho Allah maka nilai perbuatan itu menjadi baik, sebaliknya manakala motivasi dan niatnya buruk sekaligus tampak lahiriahnya kelihatan baik, seperti apa-apa yang kadang-kadang dilakuakan oleh orang munafik.
Nabi bersabda : “sesungguhnya amal perbuatan manusia tergantung niatnya. Dan amal setiap orang mendapatkan balasan perbuatan yang tergantung niatnya.”
3.       Sidqul Wafa (Benar dalam Kesetiaan). Untuk melakukan perbuatan yang baik dan benar tidak cukup dengan adanya keinginan dan motivasi, tetapi harus ditopang dengan tekad yang kuat untuk merealisasikan perbuatan tersebut banyak rintangan, tantangan dan kendalanya. Suksesnya Abu Bakar dalam memerangi orang-orang yang murtad, tidak mau membayar zakat, karena tekadnya yang luar biasa untuk memerangi orang-orang murtad sekalipun sendirian tanpa dukungan sahabat-sahabatnya yang lain. Tekad inilah yang kemudian mendapatkan dukungan dan simpati Umar dan seluruh sahabat yang lain.
4.       Sidqul Wafa (Benar dalam kesetiaan) Wafa (setia) adalah sifat ulul albab, orang-orang suci, orang-orang mu’min dan mutaqin yang dipuji didalam Al Qur’an. Ulul albab adalah “orang-orang yang setia memenuhi janjinya kepada Allah dan tidak merusak janji” (13 : 20) orang-orang Abror (suci) adalah yang setia menunaikan nazarnya dan takut akan sesuatu hari (kiamat) yang azabnya tersebar dimana-mana (76:7)
5.       Sidqul Amal (Benar dalam Perbuatan) : Risalah manusia adalah untuk beramal, berbuat yang shaleh dan positif. “Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mu’min akan melihat amal perbuatannya.(9 : 105). Amal perbuatan yang benar yang akan menjadi bekal yang membahagiakan manusia kelak di akhirat.” Barang siapa yang lebih berat timabangan amal baiknya maka dia akan mendapatkan kehidupan yang menyenangkan” (101 :7)
6.       Shidiq dalam merealisir tingkatan-tingkatan terpuji. Mu’min sejati adalah yang dapat mengembangkan seluruh pontensi dan sifat-sifatnya. Seperti yang digamabrkan dalam surat Attaubah (9: 111-112) “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah lalu mereka membunuh atau terbunuh. Sesungguhnya itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain dari pada Allah ? maka bergembiralah dengan jual beli yang elahkamu lakukan. Dan itulah kemenangan yang besar . “mereka itulah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, yangmemuji Allah, yang melawat untuk mencari ilmu pengetahuan atau berjihad, yang ruku, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihar hukum hukum Allah dan gembiralah orang-orang mu’min itu.

Cara Menanamkan Sifat Shidiq Pada Siswa (Peserta Didik)
Pada dasarnya manusia dilahirkan dengan suci tanpa ada perilaku yang buruk sedikitpun, akan tetapi lingkungan tempat kehidupannyalah yang akan membentuknya menjadi seorang yang baik ataupun seorang yang buruk. Dan khususnya adalah lingkungan keluarga
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ
Yang artinya “setiap anak dilahirkan dalam keadaan yang suci maka kedua orangtuanyalah yang mendidiknya” (HR. Abu Hurairoh). Dari cuplikan hadits diatas dapat dipahami bahwasanya lingkungan keluargalah yang akan membentuk kepribadian sang anak dan yang akan membentengi sang anak ketika tumbuh menjadi dewasa, walaupun lingkungan setelahnya seperti sekolah dan masyarakat ikut mempengaruhinya juga.
Ketika anak sudah dipupuk dengan kepribadian yang baik pada saat masih buayan dan kanak-kanak hingga anak menginjak dewasa atau sekitar umur 18 tahun, maka pada masa itulah pembentukan yang sudah benar-benar menyerap dan tertanam dalam diri sang anak. Adapun setelahnya adalah masanya untuk perkembangan dimana anak akan memfilter dan menyaring semua sikap dan perilaku yang baik maupun yang buruk.
Akan tetapi, ketika anak belum dipupuk sejak masih buayan dan anak-anak, bahkan orang tua hanya mengandalkan dan bersandar diri pada sebuah lembaga pendidikan saja, maka sebenarnya hal itu akan menjadi lebih sulit dibanding anak yang telah memperoleh perhatian dan pendidikan dari lingkungan keluarga dan khususnya orang tuanya. Apalagi sekarang perkembangan teknologi yang semakin maju dan terus maju, yang dengan teknologi tersebut sang anak dapat mendapatkan sebuah informasi dari manapun, siapapun, apapun bentuknya dengan sangat mudahnya.
Dan jika sudah terjadi hal-hal seperti itu, dimana orang tua hanya menyerahkan sang anak kepada seorang guru, maka disanalah peran seorang guru yang paling penting sehingga akan menentukan perilaku anak, walaupun merubah perilaku lebih sulit dibandingkan membentuk dari awal.
Sekarang, bagaimanakah cara menanamkannya kepada anak yang sudah terbentuk dengan perilaku yang tidak diinginkan?
Dalam penerapannya, para pendidik untuk mengusahakan menjadi pribadi yang menarik dan baik karena sebenarnya pendidik atau guru adalah seorang yang harus memberikan uswah hasanah dan contoh yang baik sehingga siswa dan peserta didik yang bersamanya dapat mengikuti contoh dari perilaku guru atau pendidik tersebut.
Kemudian, cobalah untuk menerapkan sebuah perilaku dengan mengemasnya dalam sebuah kisah dan cerita sehingga anak lebih terkesan dan mudah teringat pada dirinya. Akan tetapi penerapan ini harus diimbangi dengan sebuah reward ataupun punishment sehingga anak akan lebih semangat dan terpacu untuk melakukan hal-hal yang dicontohkan oleh seorang guru tersebut.
Setelah itu, amatilah dan konfirmasikan keadaan siswa tersebut dengan orang tuanya sehingga guru dapat lebih mengenal tentang bagaimana cara memotivasi seorang siswa, cara memberikan hukuman, dan strategi dalam menghindarkan perilaku yang tidak baik dari dalam diri siswa. Karena sesungguhnya karakter setiap anak adalah berbeda-beda.

Cara Membuang Sifat Kidzib atau Bohong Pada Siswa (Peserta Didik)
Ketika guru melihat ada diantara siswanya yang mempunyai perilaku yang tidak baik seperti kidzib atau bohong, maka upayakanlah agar guru dapat mendekati hati siswa tersebut sehingga siswa dapat merasa nyaman dengan keberadaan seorang guru, yang akhirnya dilanjutkan dengan merubah dan membentuknya perlahan-lahan (tarik ulur) sehingga siswa merasa tetap nyaman dan tidak menjauhi guru.
Setelahnya, cobalah contohkan perilaku shidiq atau benar dan jujur serta jelaskan tentang manfaat-manfaat, keuntungan dan hikmah bagi siapa saja yang memiliki sifat tersebut atau dapat mengemasnya dalam sebuah kisah dan cerita sehingga siswa lebih mudah mengingat hal-hal yang baik tersebut. Dan jika siswa tersebut dapat melakukannya (mengerjakan shidiq dan meninggalkan kebiasaan kidzib atau bohong), maka berikanlah sebuah reward sebagai tanda baik dan wujud kebanggaan seorang guru kepada siswa tersebut sehingga siswa dapat lebih termotivasi lagi untuk melakukan sifat shidiq tersebut, sekaligus dapat mendorong siswa lain yang belum melakukan sifat shidiq.






BAB III
Penutup
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa sifat shidiq (benar atau jujur) sangat penting bagi setiap manusia khususnya umat Islam yang memiliki asas pendirian al-qur’an dan as-sunnah serta suri tauladan yang baik seperti Rasulullah SAW. Akan tetapi dalam penerapan dan menanamkannya pada siswa, harus dihadapi dengan penuh ketabahan dan kesabaran bagi guru karena menanamkan perilaku shidiq dan merubah perilaku kidzib dan bohong yang sudah terbentuk pada siswa lebih sulit dibanding pada saat pembentukan diawal dan dimasa siswa masih buayan dan anak-anak. Dan yang lebih terpenting adalah sebuah uswah hasanah dan suri tauladan yang baik dari seorang guru serta diikuti reward dan punishment sebagai bentuk motifasi bagi siswa.
Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, semoga dapat bermanfaat bagi semua guru atau peserta didik dan dapat membantu dalam melakukan perubahan yang baik.

                                                           


a.      Kewajiban terhadap keislaman saya
Pada hakikatnya keilmuan dan pengetahuan saya pada Islam tidak begitu jauh sehingga saya masih harus banyak belajar dan membaca serta mencari pengalaman lagi kepada guru atau seseorang yang lebih ahli dan pandai dalam bidang agama dan sesuai dengan al-aur’an dan as-sunnah, atau dengan mencari buku-buku dari berbagai referensi.
Adapun dengan pengetahuan yang telah saya miliki, maka saya harus berusaha menjalankan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan sebaik-baiknya, karena sesungguhnya sedikitpun ilmu yang saya miliki, pasti akan diminta pertanggung jawabannya diakhirat nanti.
b.      Kewajiban terhadap keimanan saya
Terkadang suatu kejadian dan fenomena yang ada dalam lingkungan keluarga dan masyarakat, khususnya budaya yang terdapat pada tempat tinggal saya, membuat saya bingung karena adakalanya tidak sesuai dengan pengetahuan keislaman yang saya miliki sehingga terkadang diri saya menjadi ragu akan suatu hal kejadian tentang keimanan dan akidah.
Dilema yang terjadi ini saya siasati dengan bertanya tentang suatu hal kepada seseorang yang lebih pengalaman dan saya anggap mampu dan bukan hanya 1 orang, sehingga saya dapat lebih yakin dari fenomena yang saya alami tersebut. Seperti contoh: permasalahan terhadap budaya selametan bayi yang sudah 7 bulan berada dalam kandungan, yang terkadang harus berhadapan dengan keluarga, ataupun dengan ketakutan seperti larangan-larangan untuk keluar malam ketika bulan purnama dan pada kondisi ibu hamil.
Akan tetapi dengan banyak bertanya dan melihat pengalaman teman-teman tersebut, saya menjadi tidak takut dan lebih yakin lagi akan fenomena tersebut dan bahwa dilema yang sedang saya hadapi hanyalah cobaan untuk keimanan saya.
c.      Kewajiban terhadap dakwah saya
Sedikitpun ilmu yang saya miliki akan dimintai pertanggung jawaban diakhirat nanti, dan sekecilpun ilmu yang saya miliki akan bermanfaat dan beranak pinak jika saya amalkan, sehingga saya harus berusaha untuk mengamalkan sedikit ilmu yang saya punya ini. Bagaimana caranya ? yaitu diantaranya dengan mengajar, share dan diskusi bersama teman-teman, ataupun ketika sedang liqo ataupun pengajian.
d.     Kewajiban terhadap keluarga saya
Keluarga adalah tanggung jawab yang paling utama sebelum berdakwah, karena ketika berdakwah tentang sebuah sifat shidiq sedangkan keluarga sendiri tidak mempunyai sifat shidiq tersebut, maka itu akan menjadi sebuah dilema dan masalah ketika berdakwah. Sehingga sebelum berdakwah dan menyerukan suatu kebaikan kepada orang lain, keluarga pendakwah harus lebih utama menjadi contoh dan suri tauladan yang baik bagi yang lainnya. Oleh karena itu, saya juga harus berusaha untuk menerapkan suri tauladan yang baik terhadap keluarga.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar