SHIDIQ
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah wa syukrulillah penulis panjatkan
kepada Allah SWT yang telah senantiasa dan tidak bosan-bosannya dalam
memberikan aneka macam kenikmatan kepada kita semua walaupun hambanya banyak
yang lalai akan perintahnya dan cenderung menjalankan larangannya. Nastagfirullah
min kulli dzunub.
Sholawat beriring salam selalu tercurahkan
kepada suri tauladan kita, sang penyabar, dan penyeru kebenaran yakni nabi
Muhammad SAW yang telah membimbing umatnya untuk masuk ke Surga Allah. Amin
Penulis haturkan banyak terima kasih kepada
Allah yang telah membantu saya dalam menyelesaikan makalah dan tugas UAS ini.
Dan mohon maaf penulis sampaikan atas segala kekhilafan. Demikianlah dan
terimakasih.
Penulis,
Achmad Hidayatullah
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
………………. 2
Daftar Isi
………………. 3
Bab I
a.
Pendahuluan ………………. 4
b.
Rumusan Masalah ………………. 5
c.
Tujuan ………………. 5
d.
Batasan Masalah ………………. 5
Bab II
a.
Definisi ………………. 6
b.
Keutamaan dan Kekuatan Sifat Shidiq ………………. 8
c.
Ciri-Ciri Yang Mempunyai Sifat Shidiq ……………….
10
d.
Cara Menanamkan Sifat Shidiq Pada Siswa
(Peserta Didik) ………………. 13
e.
Cara Membuang Sifat Kidzib atau Bohong Pada
Siswa (Peserta Didik) …………. 14
Bab III
(Penutup) ………………. 15
JAWABAN UAS PENGANTAR STUDI ISLAM ………………. 16
BAB I
PENDAHULUAN
Shidiq merupakan salah satu sifat yang harus
dimiliki oleh seluruh umat manusia khususnya umat islam, demi mendapatkan suatu
kesejahteraan dunia ataupun akhirat. Dengan shidiq seseorang dapat membuka
jaringan, dengan shidiq seseorang dapat menarik perhatian, dengan shidiq
seseorang dapat menarik simpatik orang lain, dengan shidiq seseorang dapat
meraih apa yang belum dimilikinya, dan tentunya pasti diimbangi oleh usahanya
masing-masing.
Shidiq memiliki makna yang cukup luas, karena
mencakup segenap aspek keislaman. Hal ini tergambar dalam firman Allah
SWT: ”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu
kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah,
hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta
yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan
(memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan
orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang
sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.Mereka itulah
orang-orang yang benar imannya (yakni bersifat siddiq); dan mereka itulah
orang-orang yang bertakwa. ” (QS Al-Baqarah: 177)
Dari penjelasan ayat diatas dapat disimpulkan
bahwa shidiq memiliki makna, keimanan, menginfakkan harta yang dicintai,
mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji, bersabar dalam kesulitan,
dll. Dan pada ayat lain dijelaskan bahwa, Allah SWT memerintahkan kita
untuk senantiasa bersama-sama para shiddiqin: ”Hai orang-orang yang
beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang
benar (siddiq).” (QS At- Taubah: 119)
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menyebutkan tiga
orang RasulNya yang memiliki sifat siddiq ini. Yang pertama adalah Nabi
Ibrahim AS. Allah memujinya karena memiliki sifat ini: ”Ceritakanlah
(hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al-Kitab (Al-Qur’an) ini.Sesungguhnya dia
adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. ”(QS Maryam:
41)
Rasul yang kedua adalah Nabi Idris
AS. Allah juga memujinya dalam Al-Qur’an karena memiliki sifat
siddiq. Allah berfirman: “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada
mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al-Quran. Sesungguhnya ia
adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. ”(QS Maryam:
56)
Sedangkan yang ketiga adalah Nabi Yusuf
AS. Ia membuktikan keimanannya dengan menolak ajakan Zulaikha untuk
berzina, meskipun disertai dengan ancaman. FirmanNya: “Raja
berkata (kepada wanita-wanita itu):” Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda
Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?” Mereka berkata: Maha Sempurna
Allah, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan darinya. Berkata istri
Al-Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk
menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang
benar.” (QS Yusuf: 51).
RUMUSAN MASALAH
1.
Apakah yang dimaksud dengan shidiq ?
2.
Apakah keutamaan dan kekuatan dari shidiq ?
3.
Apakah ciri-ciri orang yang mempunyai sifat
shidiq ?
4.
Bagaimanakah cara menanamkan sifat shidiq pada
peserta didik ?
5.
Bagaimanakah cara membuang sifat kidzib atau
bohong pada peserta didik ?
TUJUAN
Untuk mencari tahu makna shidiq dan cara
menerapkan sifat shidiq pada peserta didik sehingga para kader umat (peserta
didik) ini mempunyai sifat-sifat yang baik seperti yang dicontohkan oleh
Rasulullah SAW yang kemudian dapat membimbing seseorang dalam menjalani
kehidupan di dunia maupun akhirat.
BATASAN MASALAH
1.
Untuk mengetahui pengertian dari shidiq
2.
Untuk mengetahui keutamaan dan kekuatan dari
shidiq
3.
Untuk mengetahui ciri-ciri orang yang mempunyai
sifat shidiq
4.
Untuk mengetahui cara menanamkan sifat shidiq
pada peserta didik
5.
Untuk mengetahui cara membuang sifat kidzib
atau bohong pada peserta didik
BAB II
PEMBAHASAN
Definisi
Dari
segi bahasa shiddiq berasal dari kata shodaqo
yang berarti benar, jujur, dapat dipercaya, ikhlas, tulus, keutamaan, kebaikan
dan kesungguhan.
الصدق: من صدق – يصدق - صدقا
Diantara arti shidiq adalah: Benar,
jujur/ dapat dipercaya, ikhlas, tulus, keutamaan, kebaikan, dan kesungguhan.
Penulis melihat bahwa shidiq di sini lebih dekat dengan sebuah sikap
pembenaran terhadap sesuatu yang datang dari Alah dan Rasulullah SAW yang
berangkat dari rasa dan naluri keimanan yang mendalam. Sedangkan lawan dari shiddiq
adalah kadzib (dusta). Adapun dari segi istilahnya, para ulama
memberikan definisi yang beragam. Meskipun demikian, semuanya mengarah pada
satu muara, yaitu sebagaimana yang terdapat pada definsi secara bahasanya.
Diantara definisi shidiq adalah:
1. Menyempurnakan
amal untuk Allah SWT.
2. Kesesuaian
dzahir dengan bathin. Karena orang yang dusta adalah mereka yang dzahirnya
lebih baik dari bathinnya.
3. Ungkapan yang
haq dalam posisi yang membinasakan.
4. Perkataan yang
haq pada orang yang ditakuti dan diharapkan.
Pengertian
shidiq diatas merupakan makna dari sebuah perkataan yang kemudian diterapkan
dalam perbuatan. Sebagaimana Rasulullah SAW telah mencontohkan dari
akhlak-akhlak yang mulia diantaranya shidiq, seperti firman Allah SWT yaitu:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى
رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ
ٱلْاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah
itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah
dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [Al Ahzab 21]
Ada
beberapa hadits yang dijelaskan oleh Imam Nawawi pada buku Riyadhus Shalihin,
diantaranya yaitu:
Shidiq itu memimpin seseorang menuju kebaikan,
dan kebaikan akan membawanya ke surga. Hal ini digambarkan oleh Rasulullah
SAW dalam hadits berikut: “Dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah SAW bersabda: “ Sesungguhnya
shidiq itu memimpin kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan membawanya ke dalam surga”
sedangkan lawan kata shidiq yaitu kadzib yang merupakan sumber dari
keburukan: ”Dan sesungguhnya kedustaan itu membawa kepada keburukan, dan
keburukan itu membawa ke neraka.
Shidiq juga merupakan ketenangan. Hal ini
berdasarkan hadits Rasulullah SAW: Dari Abu Haura ‘As-Sa’dy, aku berkata kepada
Hasan bin Ali RA: “Apa yang kamu hafal dari hadits Rasulullah?” Beliau
berkata: “Aku hafal hadits dari Rasulullah SAW:” Tinggalkanlah sesuatu
yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya
kebenaran membawa pada ketenangan dan dusta itu membawa pada keraguan. ”(HR
Tirmidzi)
Shidiq merupakan perintah Rasulullah
SAW. Hal ini dikatakan oleh Abu Sufyan ketika bertemu dengan raja
Hiraklius: “Apa yang dia perintahkan pada kalian?” Abu Sufyan menjawab: ”Untuk
menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, meninggalkan
semua ajaran nenek moyang, mendirikan shalat, bersikap siddiq ( jujur /
benar), bersopan santun dan menyambung tali persaudaraan. ”
Shidiq akan menuntun seseorang untuk
mendapatkan pahala dan mengejar sesuatu yang dicita-citakannya, meskipun ia
belum atau tidak dapat melakukan sesuatu yang menjadi cita-citanya. Dalam
sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang meminta
kesyahidan kepada Allah SWT dengan siddiq (sebenarnya), maka Allah akan
menempatkannya pada posisi syuhada ‘, meskipun ia meninggal di tempat
tidurnya.” Dan keutamaan dan kemuliaan sifat benar itu diperkuat dan
dijelaskan dalam firman Allah:
وَلَمَّا
رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَٰذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ
وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا
وَتَسْلِيمًا [٣٣:٢٢]
“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat
golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, “inilah yang dijanjikan
Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Yang
demikian itu tidaklah menambah kepada mereka, kecuali iman dan kedudukan”. (Q.S. al-Ahzab
: 22)
Begitu juga Allah menjanjikan pahala bagi
orang-orang yang benar dan mengancam orang yang berdusta dengan siksaan.
Seperti yang telah difirmankan dalam ayat-ayat berikut :
لِّيَسْأَلَ
الصَّادِقِينَ عَن صِدْقِهِمْ وَأَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا أَلِيمًا
[٣٣:٨]
“Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang
benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa
yang pedih.” (Q.S. Al-Ahzab : 8)
لِّيَجْزِيَ
اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِن شَاءَ أَوْ
يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا [٣٣:٢٤]
“Supaya Allah memberikan balasan kepada
orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang-orang
munafik jika dikehendaki-Nya atau menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah
adalah maha pengampun lagi maha penyayang.” (Q.S. Al-Ahzab : 24)
Dan shidiq juga akan membawa seseorang pada
keberkahan dari Allah SWT. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Penjual
dan pembeli keduanya bebas belum terikat selagi mereka belum
berpisah. Maka jika benar dan jelas kedua, diberkahi jual beli
itu. Tetapi jika menyembunyikan dan berdusta maka terhapuslah berkah jual
beli tersebut.”
Serta akan mendapatkan ampunan dan pahala yang
besar. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memuji orang yang siddiq, baik dari kaum
mukminin maupun mukminat. Bahkan Allah SWT menjanjikan kepada mereka
mendapatkan ampunan dan pahala yang besar melalui firmanNya: “Sesungguhnya
laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin,
laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan
yang benar , laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang
khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang
berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan
perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk
mereka ampunan dan pahala yang besar. ”(QS Al-Ahzab: 35).
Keutamaan Dan Kekuatan Shidiq
1.
Membawa
Kebaikan
2.
Memperoleh
derajat yang tinggi disisi Allah SWT
3.
Memperoleh
ampunan dan pahala
4.
Membawa
ketenangan batin
5.
Memperoleh
surga
1.
Membangun integritas diri
عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ
الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ
صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي
إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ
كَذَّابًا - متفق عليه
Dari Abdullah bin Mas’ud ra bahwasanya
Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada
kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga, sesungguhnya jika
seseorang akan senantiasa berlaku jujur hingga ia akan dicatat sebagai orang
yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan,
dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Dan sesungguhnya
seseorang akan selalu berdusta sehingga akan dicatat baginya sebagai seorang
pendusta.” (Muttafaqun Alaih)
2.
Mengokohkan keyakinan
عَنْ
أَبِيْ مُحَمَّدٍ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ، حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعْ مَا
يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ،
وَالْكَذِبَ رِيْبَةٌ - رواه الترمذي وأحمد
Dari Abu Muhammad Hasan bin Ali bin Abi Thalib
ra, beliau berkata, aku hafal hadits dari Rasulullah SAW: “Tinggalkanlah
sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya
shidiq itu membawa pada ketenangan dan dusta itu membawa pada keragu-raguan.”
(HR. Tirmidzi & Ahmad)
3.
Bukan sekedar kejujuran
عَنْ
حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا
فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَتَمَا
وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا - متفق عليه
Dari Hakim bin Hizam ra berkata, bahwa
Rasulullah SAW bersabda: "Dua orang yang melakukan jual beli boleh
melakukan khiyar (pilihan untuk melangsungkan atau membatalkan jual beli)
selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya shiddiq (jujur) dan menjelaskan
dagangannya (transparan) maka keduanya akan diberkahi dalam jual belinya. Dan
bila keduanya menyembunyikan dan berdusta maka akan dimusnahkan keberkahan jual
belinya". (Muttafaqun Alaih)
4.
Memperoleh Kesuksesan
عَنْ
أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ
الْخَازِنَ الْمُسْلِمَ الْأَمِينَ الَّذِي يُنْفِذُ، وَرُبَّمَا قَالَ يُعْطِي
مَا أُمِرَ بِهِ فَيُعْطِيهِ كَامِلًا مُوَفَّرًا طَيِّبَةً بِهِ نَفْسُهُ
فَيَدْفَعُهُ إِلَى الَّذِي أُمِرَ لَهُ بِهِ أَحَدُ الْمُتَصَدِّقَيْنِ - متفق عليه
Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra dari Rasulullah
SAW, beliau bersabda: "Seorang bendahara muslim yang melaksanakan tugasnya
dengan jujur, dan membayar sedekah kepada orang yang diperintahkan oleh
majikannya secara sempurna dengan segera dan dengan pelayanan yang baik, maka
ia mendapat pahala yang sama seperti orang yang bersedekah." (Muttafaqun
Alaih).
Selain mendapat ampunan dan pahala yang besar,
para shiddiqin juga akan mendapat tempat yang tinggi di sisi Allah
SWT. Mereka akan disatukan bersama para nabi dan orang-orang yang mati
syahid, dan orang-orang saleh. Allah berfirman: “Dan barangsiapa
yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan
orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para
shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka
itulah teman yang sebaik-baiknya.”(QS An-Nisa ‘: 69)
Ciri-Ciri Orang Yang Mempunyai Sifat
Shidiq
Orang-orang
yang mempunyai sifat shidiq telah Allah gambarkan dalam Al-Quran, yang
diantaranya adalah:
1.
Teguh pendiriannya terhadap apa yang
dicita-citakan (diyakininya). Firman Allah SWT: “Diantara
orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati (membenarkan) apa yang
telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang
gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka
sedikitpun tidak merubah (janjinya). ” (QS Al-Ahzab: 23)
2.
Tidak ragu untuk berjihad dengan harta dan jiwa
mereka. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran: “Sesungguhnya
orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan
jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. ”(QS
Al-Hujurat: 15)
3.
Memiliki keimanan kepada Allah SWT, Rasulullah
SAW, bersedekah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji dan
sabar. FirmanNya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan
barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman
kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan
memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, musafir dan orang-orang yang meminta-minta; dan
(memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan
orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang
sabar dalam kesempitan , penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah
orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang
bertakwa. ”(QS Al-Baqarah: 177)
4.
Memiliki komitmen yang tinggi terhadap
Islam. Firman Allah SWT: “… barang siapa yang berpegang teguh
dengan agama Allah, maka sungguh ia telah mendapatkan hidayah menuju jalan yang
lurus …” (QS Ali Imran: 101).
Menurut Imam Ghazali, ada beberapa jenis shidiq
yang perlu diterapkan dalam diri seorang mukmin, diantaranya yaitu; (Ihya Vol4.
:375 – 380).
1. Sidqul
Lisan (Benar dalam ucapan). Ucapan manusia adalah ekspresi yang ada
dihatinya. Hati yang baik melahirkan ucapan yang baik. Sebaliknya hati yang
buruk mengeluarkan ucapan yang buruk. Perbaikan ucapan harus dimulai dari
perbaikan hati. Apabila hati baik, ucapan yang keluar menjadi baik dan
selanjutnya akan mengikuti oleh prilaku yang baik. Dan prilaku yang baik akan
dibalas dengan ampunan dosa yang dapat membersihkan diri manusia.
“Hai orang-orang yang beriman bertaubatah kepada Allah dan berkatalah yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal perbuatan dan mengampuni dosa-dosamu(QS.33: )
“Hai orang-orang yang beriman bertaubatah kepada Allah dan berkatalah yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal perbuatan dan mengampuni dosa-dosamu(QS.33: )
2. Sidqul
Niyah dan Irodah (Benar dalam keyakinan dan motivasi). Nilai
perbuatan seseorang tergantung motivasi dan niatnya. Manakala perbuatan yang
baik dilandasi denga niat yang baik, mangharap ridho Allah maka nilai perbuatan
itu menjadi baik, sebaliknya manakala motivasi dan niatnya buruk sekaligus
tampak lahiriahnya kelihatan baik, seperti apa-apa yang kadang-kadang
dilakuakan oleh orang munafik.
Nabi bersabda : “sesungguhnya amal perbuatan manusia tergantung niatnya. Dan amal setiap orang mendapatkan balasan perbuatan yang tergantung niatnya.”
Nabi bersabda : “sesungguhnya amal perbuatan manusia tergantung niatnya. Dan amal setiap orang mendapatkan balasan perbuatan yang tergantung niatnya.”
3. Sidqul
Wafa (Benar dalam Kesetiaan). Untuk melakukan perbuatan yang baik dan benar
tidak cukup dengan adanya keinginan dan motivasi, tetapi harus ditopang dengan
tekad yang kuat untuk merealisasikan perbuatan tersebut banyak rintangan,
tantangan dan kendalanya. Suksesnya Abu Bakar dalam memerangi orang-orang yang
murtad, tidak mau membayar zakat, karena tekadnya yang luar biasa untuk
memerangi orang-orang murtad sekalipun sendirian tanpa dukungan
sahabat-sahabatnya yang lain. Tekad inilah yang kemudian mendapatkan dukungan
dan simpati Umar dan seluruh sahabat yang lain.
4. Sidqul
Wafa (Benar dalam kesetiaan) Wafa (setia) adalah sifat ulul albab,
orang-orang suci, orang-orang mu’min dan mutaqin yang dipuji didalam Al Qur’an.
Ulul albab adalah “orang-orang yang setia memenuhi janjinya kepada Allah dan
tidak merusak janji” (13 : 20) orang-orang Abror (suci) adalah yang setia
menunaikan nazarnya dan takut akan sesuatu hari (kiamat) yang azabnya tersebar
dimana-mana (76:7)
5. Sidqul
Amal (Benar dalam Perbuatan) : Risalah manusia adalah untuk beramal,
berbuat yang shaleh dan positif. “Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu maka Allah
dan RasulNya serta orang-orang mu’min akan melihat amal perbuatannya.(9 : 105).
Amal perbuatan yang benar yang akan menjadi bekal yang membahagiakan manusia
kelak di akhirat.” Barang siapa yang lebih berat timabangan amal baiknya maka
dia akan mendapatkan kehidupan yang menyenangkan” (101 :7)
6. Shidiq
dalam merealisir tingkatan-tingkatan terpuji. Mu’min sejati adalah yang dapat mengembangkan
seluruh pontensi dan sifat-sifatnya. Seperti yang digamabrkan dalam surat
Attaubah (9: 111-112) “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min
diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang
pada jalan Allah lalu mereka membunuh atau terbunuh. Sesungguhnya itu telah
menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an dan
siapakah yang lebih menepati janjinya selain dari pada Allah ? maka
bergembiralah dengan jual beli yang elahkamu lakukan. Dan itulah kemenangan
yang besar . “mereka itulah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah,
yangmemuji Allah, yang melawat untuk mencari ilmu pengetahuan atau berjihad,
yang ruku, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat
mungkar dan yang memelihar hukum hukum Allah dan gembiralah orang-orang mu’min
itu.
Cara Menanamkan Sifat Shidiq Pada Siswa
(Peserta Didik)
Pada dasarnya manusia dilahirkan dengan suci
tanpa ada perilaku yang buruk sedikitpun, akan tetapi lingkungan tempat
kehidupannyalah yang akan membentuknya menjadi seorang yang baik ataupun
seorang yang buruk. Dan khususnya adalah lingkungan keluarga
كُلُّ مَوْلُوْدٍ
يُوْلَدُ عَلى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ
Yang artinya “setiap anak dilahirkan dalam
keadaan yang suci maka kedua orangtuanyalah yang mendidiknya” (HR. Abu
Hurairoh). Dari cuplikan hadits diatas dapat dipahami bahwasanya lingkungan
keluargalah yang akan membentuk kepribadian sang anak dan yang akan membentengi
sang anak ketika tumbuh menjadi dewasa, walaupun lingkungan setelahnya seperti
sekolah dan masyarakat ikut mempengaruhinya juga.
Ketika anak sudah dipupuk dengan kepribadian
yang baik pada saat masih buayan dan kanak-kanak hingga anak menginjak dewasa
atau sekitar umur 18 tahun, maka pada masa itulah pembentukan yang sudah
benar-benar menyerap dan tertanam dalam diri sang anak. Adapun setelahnya
adalah masanya untuk perkembangan dimana anak akan memfilter dan menyaring
semua sikap dan perilaku yang baik maupun yang buruk.
Akan tetapi, ketika anak belum dipupuk sejak
masih buayan dan anak-anak, bahkan orang tua hanya mengandalkan dan bersandar
diri pada sebuah lembaga pendidikan saja, maka sebenarnya hal itu akan menjadi
lebih sulit dibanding anak yang telah memperoleh perhatian dan pendidikan dari
lingkungan keluarga dan khususnya orang tuanya. Apalagi sekarang perkembangan
teknologi yang semakin maju dan terus maju, yang dengan teknologi tersebut sang
anak dapat mendapatkan sebuah informasi dari manapun, siapapun, apapun
bentuknya dengan sangat mudahnya.
Dan jika sudah terjadi hal-hal seperti itu,
dimana orang tua hanya menyerahkan sang anak kepada seorang guru, maka
disanalah peran seorang guru yang paling penting sehingga akan menentukan
perilaku anak, walaupun merubah perilaku lebih sulit dibandingkan membentuk
dari awal.
Sekarang, bagaimanakah cara menanamkannya
kepada anak yang sudah terbentuk dengan perilaku yang tidak diinginkan?
Dalam penerapannya, para pendidik untuk
mengusahakan menjadi pribadi yang menarik dan baik karena sebenarnya pendidik
atau guru adalah seorang yang harus memberikan uswah hasanah dan contoh yang
baik sehingga siswa dan peserta didik yang bersamanya dapat mengikuti contoh
dari perilaku guru atau pendidik tersebut.
Kemudian, cobalah untuk menerapkan sebuah
perilaku dengan mengemasnya dalam sebuah kisah dan cerita sehingga anak lebih terkesan
dan mudah teringat pada dirinya. Akan tetapi penerapan ini harus diimbangi
dengan sebuah reward ataupun punishment sehingga anak akan lebih semangat dan
terpacu untuk melakukan hal-hal yang dicontohkan oleh seorang guru tersebut.
Setelah itu, amatilah dan konfirmasikan keadaan
siswa tersebut dengan orang tuanya sehingga guru dapat lebih mengenal tentang
bagaimana cara memotivasi seorang siswa, cara memberikan hukuman, dan strategi
dalam menghindarkan perilaku yang tidak baik dari dalam diri siswa. Karena
sesungguhnya karakter setiap anak adalah berbeda-beda.
Cara Membuang Sifat Kidzib atau Bohong Pada Siswa
(Peserta Didik)
Ketika guru melihat ada diantara siswanya yang
mempunyai perilaku yang tidak baik seperti kidzib atau bohong, maka upayakanlah
agar guru dapat mendekati hati siswa tersebut sehingga siswa dapat merasa
nyaman dengan keberadaan seorang guru, yang akhirnya dilanjutkan dengan merubah
dan membentuknya perlahan-lahan (tarik ulur) sehingga siswa merasa tetap nyaman
dan tidak menjauhi guru.
Setelahnya, cobalah contohkan perilaku shidiq
atau benar dan jujur serta jelaskan tentang manfaat-manfaat, keuntungan dan
hikmah bagi siapa saja yang memiliki sifat tersebut atau dapat mengemasnya
dalam sebuah kisah dan cerita sehingga siswa lebih mudah mengingat hal-hal yang
baik tersebut. Dan jika siswa tersebut dapat melakukannya (mengerjakan shidiq
dan meninggalkan kebiasaan kidzib atau bohong), maka berikanlah sebuah reward
sebagai tanda baik dan wujud kebanggaan seorang guru kepada siswa tersebut
sehingga siswa dapat lebih termotivasi lagi untuk melakukan sifat shidiq
tersebut, sekaligus dapat mendorong siswa lain yang belum melakukan sifat shidiq.
BAB III
Penutup
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa
sifat shidiq (benar atau jujur) sangat penting bagi setiap manusia khususnya
umat Islam yang memiliki asas pendirian al-qur’an dan as-sunnah serta suri
tauladan yang baik seperti Rasulullah SAW. Akan tetapi dalam penerapan dan
menanamkannya pada siswa, harus dihadapi dengan penuh ketabahan dan kesabaran
bagi guru karena menanamkan perilaku shidiq dan merubah perilaku kidzib dan
bohong yang sudah terbentuk pada siswa lebih sulit dibanding pada saat
pembentukan diawal dan dimasa siswa masih buayan dan anak-anak. Dan yang lebih
terpenting adalah sebuah uswah hasanah dan suri tauladan yang baik dari seorang
guru serta diikuti reward dan punishment sebagai bentuk motifasi bagi siswa.
Demikianlah yang dapat penulis sampaikan,
semoga dapat bermanfaat bagi semua guru atau peserta didik dan dapat membantu
dalam melakukan perubahan yang baik.
a.
Kewajiban
terhadap keislaman saya
Pada hakikatnya
keilmuan dan pengetahuan saya pada Islam tidak begitu jauh sehingga saya masih
harus banyak belajar dan membaca serta mencari pengalaman lagi kepada guru atau
seseorang yang lebih ahli dan pandai dalam bidang agama dan sesuai dengan
al-aur’an dan as-sunnah, atau dengan mencari buku-buku dari berbagai referensi.
Adapun dengan
pengetahuan yang telah saya miliki, maka saya harus berusaha menjalankan dan
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan sebaik-baiknya, karena
sesungguhnya sedikitpun ilmu yang saya miliki, pasti akan diminta pertanggung
jawabannya diakhirat nanti.
b.
Kewajiban
terhadap keimanan saya
Terkadang suatu
kejadian dan fenomena yang ada dalam lingkungan keluarga dan masyarakat,
khususnya budaya yang terdapat pada tempat tinggal saya, membuat saya bingung
karena adakalanya tidak sesuai dengan pengetahuan keislaman yang saya miliki
sehingga terkadang diri saya menjadi ragu akan suatu hal kejadian tentang
keimanan dan akidah.
Dilema yang
terjadi ini saya siasati dengan bertanya tentang suatu hal kepada seseorang
yang lebih pengalaman dan saya anggap mampu dan bukan hanya 1 orang, sehingga
saya dapat lebih yakin dari fenomena yang saya alami tersebut. Seperti contoh:
permasalahan terhadap budaya selametan bayi yang sudah 7 bulan berada dalam
kandungan, yang terkadang harus berhadapan dengan keluarga, ataupun dengan
ketakutan seperti larangan-larangan untuk keluar malam ketika bulan purnama dan
pada kondisi ibu hamil.
Akan tetapi
dengan banyak bertanya dan melihat pengalaman teman-teman tersebut, saya
menjadi tidak takut dan lebih yakin lagi akan fenomena tersebut dan bahwa
dilema yang sedang saya hadapi hanyalah cobaan untuk keimanan saya.
c.
Kewajiban
terhadap dakwah saya
Sedikitpun ilmu
yang saya miliki akan dimintai pertanggung jawaban diakhirat nanti, dan
sekecilpun ilmu yang saya miliki akan bermanfaat dan beranak pinak jika saya
amalkan, sehingga saya harus berusaha untuk mengamalkan sedikit ilmu yang saya
punya ini. Bagaimana caranya ? yaitu diantaranya dengan mengajar, share dan
diskusi bersama teman-teman, ataupun ketika sedang liqo ataupun pengajian.
d.
Kewajiban
terhadap keluarga saya
Keluarga adalah tanggung jawab yang
paling utama sebelum berdakwah, karena ketika berdakwah tentang sebuah sifat
shidiq sedangkan keluarga sendiri tidak mempunyai sifat shidiq tersebut, maka
itu akan menjadi sebuah dilema dan masalah ketika berdakwah. Sehingga sebelum
berdakwah dan menyerukan suatu kebaikan kepada orang lain, keluarga pendakwah
harus lebih utama menjadi contoh dan suri tauladan yang baik bagi yang lainnya.
Oleh karena itu, saya juga harus berusaha untuk menerapkan suri tauladan yang
baik terhadap keluarga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar