1.
Psikologi
berasal dari bahasa yunani “psyche” yang artinya jiwa dan “logos” artinya ilmu
pengetahuan. Dan secara etimologi psikologi ialah ilmu yang mempelajari jiwa
dengan gejala-gejalanya, proses maupun latar belakangnya. Dan psikologi umum
adalah ilmu yang mempelajari gejala-gejala kejiwaan manusia dewasa yang normal
dan beradab.
Dan pada
umumnya Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang perilaku
individu (perilaku motorik, perilaku kognitif, dan perilaku afektif) dalam
berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan psikologi pendidikan yaitu
cabang dari psikologi yang secara khusus mengkaji berbagai perilaku individu
dalam kaitannya dengan pendidikan dan bertujuan untuk menemukan fakta,
generalisasi, dan teori psikologis yang berkaitan dengan pendidikan sehingga
dapat digunakan dalam upaya melaksanakan proses pendidikan yang efektif dan
efisien. Jadi psikologi pendidikan dapat juga dikatakan bahwa psikologi yaitu
proses mempelajari tingkah laku individu dalam situasi pendidikan dan proses
belajar.
Ada beberapa
aliran dalam psikologi, diantaranya yaitu:
a. Aliran Behavioristik
(Tingkah Laku)
Yaitu perubahan dalam
tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Atau
dengan kata lain, belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal
kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil
interaksi antara stimulus dan respon
b. Aliran Kognitif
Jean Piaget (1975) menjelaskan bahwa proses
belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yakni 1). Asimilasi, 2). Akomodasi,
dan 3). Equilibrasi (penyeimbangan). Proses asimilasi adalah proses
penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada
dalam benak siswa. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif ke dalam
situasi yang baru. Equilibrasi adalah penyesuaian berkesinambungan antara
asimilasi dan akomodasi
c. Aliran
Humanistik
Bloom dan Krathowl menjelaskan bahwa aliran ini
menunjukkan apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh siswa, yang
tercakup dalam tiga kawasan berikut;
·
Kognitif
Kognitif
terdiri dari enam tingkatan yaitu :
ü Pengetahuan (mengingat, menghafal)
ü Pemahaman(menginterprestasikan)
ü Aplikasi (menggunakan
konsep untuk memecahkan suatu masalah)
ü Analisis (menjabarkan
suatu konsep)
ü Sintesis (menggabungkan
bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh)
ü Evaluasi (membandingkan
nilai, ide, metode, dan sebagainya)
·
Psikomotor
Psikomotor terdiri dari lima tingkatan, yaitu:
ü
Peniruan (menirukan gerak).
ü
Penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak).
ü
Ketepatan (melakukan gerak dengan benar).
ü
Perangkaian (beberapa gerakan sekaligus dengan benar).
ü
Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar).
·
Afektif
Afektif terdiri dari lima tingkatan;
ü Pengenalan (ingin
menerima, sadar akan adanya sesuatu)
ü Merespons (aktif
berpartisipasi)
ü Penghargaan (menerima
nilai-nilai, setia pada nilai nilai tertentu)
ü Pengorganisasisan
(menghubung-hubungkan nilai-nilai yang dipercayai)
ü Pengamalan (menjadikan
nilai-nilai sebagi bagian dari pola hidup)
d. Aliran Sibernetik
Landa salah satu ahli psikologi yang beraliran sibernetik menjelaskan bahwa
terdapat dua macam proses berfikir. Pertama, disebut proses berfikir algoritmik,
yaitu berpikir linier, konvergen, lurus menuju ke suatu target tertentu. Jenis
kedua, adalah cara berpikir heuristic, yakni cara berpikir divergen,
menuju ke beberapa target sekaligus.
e. Aliran Psikologi
Gestalt
Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang
berarti “bentuk” atau “Konfigurasi”, “hal”, “peristiwa”, “pola”, “totalitas”
atau “bentuk keseluruahan”. Max Wertheimer (1880-1943) berpendapat bahwa dalam
alat kejiwaan tidak terdapat jumlah unsur-unsurnya melainkan Gestalt
(keseluruhan) dan tisap-tiap bagian tidak berarti dan bisa mempunyai arti kalau
bersatu dalam hubungan kesatuan
f.
Aliran Strukturalisme
Struktur adalah sistem transformasi yang
mengandung kaidah sebagai sistem (sebagai lawan dari sifat unsur-unsur) dan
yang melindungi diri melalui peran tranformasi-transformasinya, tanpa keluar
dari batas-batasnya atau menyebabkan masuknya unsur-unsur luar. Sifat yang
mencakup sebuah struktur yaitu: totalitas, transformasi, dan pengaturan diri.
Dan menurut Wilhelm Wundt bahwa pengalaman mental yang kompleks itu
sebenarnya adalah “struktur” yang terdiri atas keadaan mental yang
sederhana.
g. Aliran
Fungsionalisme
Fungsionalisme adalah suatu tendensi dalam
psikologi yang menyatakan dalam pikiran, proses mental, persepsi indrawi, dan
emosi adalah adaptasi organisme biologis. Dan pada intinya merupakan doktrin
bahwa proses atau keadaan sadar seperti kehendak bebas, berfikir, beremosi,
memersepsi dan mengindrai adalah aktivitas-aktivitas dari sebuah organisme
hubungan fisik dan lingkungan fisik dan tidak dapat diberi eksistensi yang
penting.
h. Aliran
Psikoanalisa (Psikologi Dalam)
Sigmund Freud menyatakan bahwa dalam diri
seseorang terdapat tiga sistem kepribadian yaitu: Id adalah bagian
kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia/pusat insting
yang berprinsip pada kesenangan sendiri. Ego berfungsi menjembatani
tuntutan Id dengan realitas didunia luar. Ego adalah mediator antara
hasrat-hasrat hewani dan tuntutan rasional dan realistik. Super Ego berisi
kata hati yang berhubungan dengan lingkungan sosial dan mempunyai nilai-nilai
moral, sehingga merupakan kontrol atau sensor terhadap dorongan-dorongan yang
datang dari Id.
i.
Nativisme yang menyatakan bahwa manusia tidak
perlu dididik
Aliran ini berpandangan bahwa perkembangan
individu ditentukan oleh faktor bawaan sejak lahir. Faktor lingkungan kurang
berpengaruh terhadap pendidikan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, hasil
pendidikan ditentukan oleh bakat yang dibawa sejak lahir. Dengan demikian,
menurut aliran ini, keberhasilan belajar ditentukan oleh individu itu sendiri.
Nativisme berpendapat, jika anak memiliki bakat jahat dari lahir, ia akan
menjadi jahat, dan sebaliknya jika anak memiliki bakat baik, ia akan menjadi
baik. Pendidikan anak yang tidak sesuai dengan bakat yang dibawa tidak akan
berguna bagi perkembangan anak itu sendiri
j.
Naturalisme yang menyatakan bahwa manusia tidak
perlu dididik
Naturalisme mempunyai pandangan bahwa setiap
anak yang lahir di dunia mempunyai pembawaan baik, namun pembawaan tersebut
akan menjadi rusak karena pengaruh lingkungan, sehingga aliran Naturalisme
sering disebut Negativisme
k. Empirisisme
yang menyatakan bahwa manusia perlu dididik
Anak yang lahir ke dunia seperti kertas putih
yang bersih. Kertas putih akan mempunyai corak dan tulisan yang digores oleh
lingkungan. Faktor bawaan dari orangtua (faktor keturunan) tidak dipentingkan.
Pengalaman diperoleh anak melalui hubungan dengan lingkungan (sosial, alam, dan
budaya). Pengaruh empiris yang diperoleh dari lingkungan berpengaruh besar
terhadap perkembangan anak. Menurut aliran ini, pendidik sebagai faktor luar
memegang peranan sangat penting, sebab pendidik menyediakan lingkungan
pendidikan bagi anak, dan anak akan menerima pendidikan sebagai pengalaman.
Pengalaman tersebut akan membentuk tingkah laku, sikap, serta watak anak sesuai
dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.
l.
Interaksionisme yang menyatakan bahwa manusia
perlu dididik
Manusia lahir di dunia ini telah memiliki bakat
baik dan buruk, sedangkan perkembangan manusia selanjutnya akan dipengaruhi
oleh lingkungan. Jadi, faktor pembawaan dan lingkungan sama-sama berperan
penting. Manusia yang mempunyai pembawaan baik dan didukung oleh lingkungan
pendidikan yang baik akan menjadi semakin baik. Sedangkan bakat yang dibawa
sejak lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa dukungan lingkungan yang
sesuai bagi perkembangan bakat itu sendiri. Sebaliknya, lingkungan yang baik
tidak dapat menghasilkan perkembangan anak secara optimal jika tidak didukung
oleh bakat baik yang dibawa anak. Dengan demikian, menganggap bahwa mendidik
sangat bergantung dan sangat perlu pada faktor pembawaan atau bakat dan
lingkungan
2.
Teori-teori
belajar
a.
Teori
belajar behaviorisme
Teori
behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner
tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini
lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah
pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai
aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang
tampak sebagai hasil belajar
Kekurangan
Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru (teacher
centered learning), bersifat meanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang
diamati dan diukur. Murid hanya
mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar
dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman sebagai
salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa ( teori skinner )
baik hukuman verbal maupun fisik seperti kata-kata kasar, ejekan, jeweran yang
justru berakibat buruk pada siswa.
Kelebihan
Sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang
membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti
kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleks, dan daya tahan.
Contoh :
Percakapan bahasa asing, mengetik, menari,
berenang, olahraga. Cocok diterapkakn untuk melatih anak-anak yang masih
membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan,
suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi
hadiah atau pujian. Dan dapat dikendalikan melalui
cara mengganti mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk
mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan,
sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang
berasal dari luar dirinya
b.
Teori
belajar kognitivisme
Teori belajar
kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai
protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model
kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi
dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan
hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model
ini menekankan pada bagaimana informasi diproses. Peneliti yang mengembangkan teori
kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari
ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel
menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama
terhadap belajar. Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk
konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi
dari lingkungan
Kekurangan
Yaitu teori tidak
menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan, sulit dipraktikkan khususnya di
tingkat lanjut dan beberapa prinsip seperti intelegensi sulit dipahami dan
pemahamannya masih belum tuntas.
Kelebihan
yaitu menjadikan siswa
lebih kreatif dan mandiri, membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih
mudah.
c.
Teori Belajar Gestalt
Gestalt
berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau
konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa
tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan.
Aplikasi teori
Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
· Pengalaman tilikan
(insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku.
Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan
yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau
peristiwa.
· Pembelajaran
yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang
terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin
jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari.
Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam
identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang
dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan
proses kehidupannya.
· Perilaku
bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan.
Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada
keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran
akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya.
Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas
pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
· Prinsip ruang
hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan
lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya
memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta
didik.
· Transfer dalam
Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran
tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi
dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi
tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam
tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip
pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan
umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah
menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi
untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh
karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai
prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
Kekurangan
yaitu sesuatu yang dipelajari dimulai dari
keseluruhan, maka dikhawatirkan akan menimbulkan kesulitan dalam proses
belajar, sebab beban yang harus ditanggung sangatlah banyak.
Kelebihan
yaitu lebih melihat manusia sebagai seorang
individu yang memiliki keunikan, dimana mereka harus berhubungan dengan lingkungan
yang ada disekitar mereka. Dengan teori Gestalt yang lebih menekankan akan
pentingnya pengertian dalam mempelajari sesuatu, maka akan lebih berhasil dalam
mencapai kematangan dalam proses belajar.
d.
Teori belajar sibernetik
Salah satu ahli psikologi “Landa“ yang beraliran sibernetik menjelaskan
bahwa terdapat dua macam proses berfikir. Pertama, disebut proses berfikir algoritmik,
yaitu berpikir linier, konvergen, lurus menuju ke suatu target tertentu. Jenis
kedua, adalah cara berpikir heuristic, yakni cara berpikir divergen,
menuju ke beberapa target sekaligus. Menurut Budiningsih 2005, kekurangan dan kelebihan
dari teori belajar sibernetik sebagai berikut :
Kekurangan
Teori
sibernetik sebagai teori belajar sering kali dikritik karena lebih menekankan
pada system informasi yang akan dipelajari, sementara itu bagainama proses
belajar berlangsung dalam diri individu sangat ditentukan oleh system
informasi yang dipelajari. Teori ini memandang manusia sebagai pengolah
informasi, pemikir, dan pencipta (Pask dan Scott, dalam budiningsih, 2005). Teori
aliran ini dikritik karena tidak secara langsung membahas tentang proses
belajar sehingga menyulitkan dalam penerapan. Ulasan teori ini cenderung ke
dunia psikologi dan informasi dengan mencoba melihat mekanisme kerja otak.
Karena pengetahuan dan pemahaman akan mekanisme ini sangat terbatas maka
terbatas pula kemampuan untuk menerapkan teori ini.
Kelebihan
Cara berpikir sibernetik
berorientasi pada proses lebih menonjol, penyajian pengetahuan memenuhi aspek
ekonomis, kapabilitas belajar dapat disajikan lebih lengkap, adanya keterarahan
seluruh kegiatan belajar kepada tujuan yang ingin dicapai, adanya transfer
belajar pada lingkungan kehidupan yang sesungguhnya, control belajar (conten
control, pace control, display control, dan conscious cognition control)
memungkinkan belajar sesuai dengan irama masing-masing individu (prinsip
perbedaan individual terlayani). Dan balikan informative memberikan rambu-rambu
yang jelas tentang tingkat untuk kerja yang telah dicapai dibandingkan dengan
unjuk kerja yang diharapkan.
e.
Teori belajar humanistik
Bloom dan Krathowl menjelaskan bahwa aliran ini
menunjukkan apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh siswa, yang
tercakup dalam tiga kawasan kognitif, afektif dan psikomotor.
Kekurangan
Siswa yang
tidak mau memahami potensi dirinya akan ketinggalan dalam proses belajar. Dan siswa
tidak aktif dan malas belajar akan merugikan diri sendiri dalam proses belajar.
Kelebihan
Teori ini cocok
untuk diterapkan dalam materi pembelajaran yang bersifat pembentukan
kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena
sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa
senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir,
perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang
bebas, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya
sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau
melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.
f.
Teori
belajar konstruktivisme
Konstruktivisme
merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa
pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas
melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.
3.
factor
psikologis yang mempengaruhi proses belajar dan pembelajaran siswa diantaranya,
motivasi, bakat, emosi, spiritual, kepribadian dan gaya belajar.
a.
Motivasi
Yaitu sebagai proses di dalam diri individu
yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat
(Slavin, 1994). Motivasi juga diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan
dan keinginan terhadap intensitas dan arah perilaku seseorang. Dari sudut
sumbernya motivasi dibagi menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi
ekstrinsik.
Motivasi intrinsik adalah semua
faktor yang berasal dari dalam diri individu dan memberikan dorongan untuk
melakukan sesuatu. Seperti seorang siswa yang gemar membaca, maka ia tidak
perlu disuruh-suruh untuk membaca, karena membaca tidak hanya menjadi aktifitas
kesenangannya, tapi bisa jadi juga telah menjadi kebutuhannya. Dalam proses
belajar, motivasi intrinsik memiliki pengaruh yang efektif, karena motivasi
intrinsic relatif lebih lama dan tidak tergantung pada motivasi dari luar
(ekstrinsik).
Motivasi ekstrinsik adalah faktor
yang dating dari luar diri individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan
untauk belajar. Seperti pujian, peraturan, tata tertib, teladan guru, orangtua,
danlain sebagainya. Kurangnya respons dari lingkungansecara positif akan memengaruhi
semangat belajar seseorang menjadi lemah.
b.
Bakat
(aptitude)
Yaitu sebagai
kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada
masa yang akan dating (Syah, 2003). Berkaitan dengan belajar, Slavin (1994)
mendefinisikan bakat sebagai kemampuan umum yang dimilki seorang siswa untauk
belajar. Dengan demikian, bakat adalah kemampuan seseorang menjadi salah
satukomponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat
seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan
mendukung proses belajarnya sehingga kemungkinan besar ia akan berhasil.
c.
Emosi
Seorang pakar kecerdasan emosional Daniel
Goleman (1995) mengatakan bahwa emosi merupakan suatu kegiatan atau pergolakan
pikiran, perasaan, nefsu, setiap keadaan mental yang hebat merujuk kepada sutu
perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis,
dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Sedangkan Chaplin (1989) dalam Dictionary
of Psychology mendefiniskan emosi sebagai suatu keadaan yang tersangsang
adari organism mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam
sifatnya dari perubahan perilaku. Ia membedakan emosi dengan perasaan, dan
mendefinisikan perasaan (feelings) adalah pengalaman disadari yang diaktifkan
baik oleh perangsang eksternal maupun bermacam-macam keadaan jasmani
d.
Spiritual
Adalah dasar
bagi tumbuhnya harga diri, nilai-nilai, moral, dan rasa memiliki. Ia memberi
arah dan arti bagi kehidupan kita tentang kepercayaan mengenai adanya kekuatan
non fisik yang lebih besar dari pada kekuatan diri kita; Suatu kesadaran yang
menghubungkan kita langsung dengan Tuhan, atau apa pun yang kita namakan
sebagai sumber keberadaan kita.
e.
Kepribadian
Sigmund Freud
memandang bahwa kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga
sistem yaitu Id, Ego dan Superego. Dan tingkah laku, menurut Freud, tidak lain
merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kerpibadian
tersebut.
Sedangkan
menurut Gordon W.Allport kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis
darisistem psiko-fisik indvidu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran
indvidu secara khas. Terjadinya Interaksi psiko-fisik mengarahkan tingkah laku
manusia. Maksud dinamis pada pengertian tersebut adalah perilaku mungkin saja berubah-ubah
melalui proses pembelajaran atau melalui pengalaman-pengalaman, reward,punishment,
pendidikan, dan lainnya.
f.
Gaya
belajar
Menurut
Nasution (2011) gaya belajar atau “learning style” siswa yaitu cara siswa bereaksi
dan menggunakan perangsang-perangsang yang diterima dalam proses belajar.
Menurut penulis gaya belajar adalah cara siswa untuk membuat suatu strategi
dalam